Kenapa Procurement harus terlibat sejak awal project

 


 

 Kalau procurement baru masuk di tengah atau akhir proyek, biasanya yang terjadi bukan efisiensi—tapi “pemadam kebakaran”. Biaya sudah keburu mahal, vendor tidak optimal, dan risiko kontrak jadi tinggi.

Berikut alasan kenapa procurement harus terlibat sejak awal project (dan ini sangat krusial untuk konteks organisasi seperti BAZNAS, NGO, maupun korporasi):

1. Mencegah Desain Proyek yang Tidak Realistis

Sering terjadi tim program atau teknis menyusun kebutuhan tanpa mempertimbangkan kondisi pasar.

Dengan keterlibatan awal, procurement bisa:

Memberi insight harga pasar (should cost)
Memberi opsi spesifikasi yang lebih feasible
Menghindari “over-spec” yang bikin mahal

👉 Dampaknya: perencanaan lebih grounded, tidak idealis tapi tidak bisa dieksekusi

2. Menentukan Strategi Sourcing yang Tepat

Setiap kebutuhan tidak bisa disamakan cara belinya.

Procurement sejak awal bisa menentukan:

Open tender vs direct appointment
Local sourcing vs nasional vendor
Bundling vs unbundling paket pekerjaan

👉 Dampaknya: efisiensi + kecepatan eksekusi meningkat

3. Mengelola Risiko Sejak Awal

Project gagal sering bukan karena eksekusi, tapi karena risiko yang tidak diantisipasi.

Procurement bisa mengidentifikasi:

Risiko supply (barang langka, lead time lama)
Risiko vendor (kapasitas, reputasi)
Risiko kontrak (penalti, dispute)

👉 Dampaknya: proyek lebih resilient, tidak mudah terganggu

4. Mendorong Value for Money, Bukan Sekadar Harga Murah

Kalau masuk di akhir, procurement biasanya hanya ditekan untuk “cari yang paling murah”.

Padahal kalau dari awal:

Bisa evaluasi total cost (logistik, maintenance, dll)
Bisa bangun kompetisi vendor yang sehat
Bisa dorong inovasi dari supplier

👉 Dampaknya: hasil program lebih berkualitas dan berkelanjutan

5. Mendukung Dampak Sosial (Khusus NGO/BAZNAS)

Ini poin yang sering terlewat.

Dengan procurement sejak awal:

Bisa desain program yang melibatkan UMKM/peternak lokal
Bisa memastikan distribusi manfaat lebih merata
Bisa align dengan tujuan sosial (bukan sekadar belanja)

👉 Dampaknya: procurement jadi alat pemberdayaan, bukan hanya fungsi administratif

6. Mempercepat Timeline Project

Ironisnya, procurement yang dianggap “memperlambat” justru bisa mempercepat kalau dilibatkan sejak awal.

Kenapa?

Timeline tender bisa disiapkan paralel
Vendor sudah di-prequalify lebih dulu
Tidak ada revisi spesifikasi di tengah jalan

👉 Dampaknya: project lebih on-time, bahkan bisa lebih cepat

7. Meningkatkan Governance & Compliance

Keterlibatan awal memastikan:

Proses sesuai SOP sejak awal
Dokumentasi rapi (audit-ready)
Tidak ada conflict of interest tersembunyi

👉 Dampaknya: minim temuan audit, kredibilitas organisasi naik

Kesimpulan Singkat (Untuk Konten Poster)

“Procurement bukan fungsi di akhir proses, tapi partner strategis sejak awal proyek.”

Kalau masuk dari awal:
➡️ Biaya lebih efisien
➡️ Risiko lebih terkendali
➡️ Vendor lebih berkualitas
➡️ Dampak program lebih besar